Kisah cinta yang mengharukan lagi kocak ini terjadi kepada 7 Orang pemuda yang masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di makassar, tepatnya di AMIK Profesional. Ke tujuhnya mengambil jurusan yang sama yaitu Teknik Komputer, bukan berarti mereka lulusan dari SMU yang sama. Mereka dari SMU yang berbeda, kecuali Oghie & Akmal. Dulu mereka satu sekolah, tetapi Akmal yang jadi kakak kelas Oghie saat itu. Mereka baru saling kenal di kampus itu.
Di musim panas pada tahun 2003 mereka memulainya menjadi seorang mahasiswa Teknik Komputer, hingga sekarang mereka telah menjalani 3 semester. Bukan sekedar untuk mengamati komputer saja, meskipun itu memang salah satu alasannya. Kampus itu kecil namun ramai, seluruh mahasiswanya pun ramah hingga dosennya, Meskipun ada beberapa yang kurang begitu bersahabat sih di mata mahasiswanya... tapi aku yakin kok mereka itu baik. dan kampus itulah yang bakalan menjadi kenangan mereka bertujuh.
Keluarlah Boy dari ruangan tempat ia kuliah Praktikum. Bukan diusir oleh Pak Dosen melainkan menerima telepon dari Ayahnya.
” Halo Pap.. Kenapa ?” Tanya Boy
” Habis Pulang kuliah kamu langsung ke Kantor Papa yach...” Sahut Ayahnya, Dan Boy pun berharap ini merupakan kejutan.
” Ada apa sih Pap...?
” Aku minta kamu bantu Papa bikin Surat Peminjaman barang di kantor Papa...”
Harapan untuk mendapatkan kejutan terjawab untuk Boy. Sebuah kejutan yang tak pernah berubah dari Ayahnya.
” Iya Pap nanti aku kerjakan....” Dengan wajah yang lemas.
Pukul 11.00 suasana kampus begitu tenang. Mahasiswa yang banyak bete’ terpaksa lebih memilih ke perpustakaan. Boy yang berniat kembali ke ruangan, melihat tiba – tiba seorang wanita melintas di hadapannya, menuju tangga tempat Birokrasi kampus berada. Bola mata Boy seakan ingin melompat, indera penciumnya disambut keharuman wanita itu. Yang paling Boy suka dari wanita itu adalah bross Marlion singapura yang dipakainya sebagai. Boy terkejut, sepertinya ia mengenali benda itu. Sejenak Boy memejamkan matanya dengan niat mengingat benda itu.
” upssss....!!!.” refleks Boy.
Dengan cepat dan langkah kaki Boy yang tidak seperti biasanya, Boy bergegas menuju ruang kuliah dan membuka pintu. Boy menarik tasnya dari bawah kursi, dan sepertinya ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Bross Marlion yang melekat di tas wanita itu Mirip punya Boy yang diklaim hanya satu – satunya. Rasa heran dan penasaran Boy memuncak terhadap benda singapur itu.
” Kok ada yang sama yach...” Curhat Boy dengan benaknya.
Di musim panas pada tahun 2003 mereka memulainya menjadi seorang mahasiswa Teknik Komputer, hingga sekarang mereka telah menjalani 3 semester. Bukan sekedar untuk mengamati komputer saja, meskipun itu memang salah satu alasannya. Kampus itu kecil namun ramai, seluruh mahasiswanya pun ramah hingga dosennya, Meskipun ada beberapa yang kurang begitu bersahabat sih di mata mahasiswanya... tapi aku yakin kok mereka itu baik. dan kampus itulah yang bakalan menjadi kenangan mereka bertujuh.
Keluarlah Boy dari ruangan tempat ia kuliah Praktikum. Bukan diusir oleh Pak Dosen melainkan menerima telepon dari Ayahnya.
” Halo Pap.. Kenapa ?” Tanya Boy
” Habis Pulang kuliah kamu langsung ke Kantor Papa yach...” Sahut Ayahnya, Dan Boy pun berharap ini merupakan kejutan.
” Ada apa sih Pap...?
” Aku minta kamu bantu Papa bikin Surat Peminjaman barang di kantor Papa...”
Harapan untuk mendapatkan kejutan terjawab untuk Boy. Sebuah kejutan yang tak pernah berubah dari Ayahnya.
” Iya Pap nanti aku kerjakan....” Dengan wajah yang lemas.
Pukul 11.00 suasana kampus begitu tenang. Mahasiswa yang banyak bete’ terpaksa lebih memilih ke perpustakaan. Boy yang berniat kembali ke ruangan, melihat tiba – tiba seorang wanita melintas di hadapannya, menuju tangga tempat Birokrasi kampus berada. Bola mata Boy seakan ingin melompat, indera penciumnya disambut keharuman wanita itu. Yang paling Boy suka dari wanita itu adalah bross Marlion singapura yang dipakainya sebagai. Boy terkejut, sepertinya ia mengenali benda itu. Sejenak Boy memejamkan matanya dengan niat mengingat benda itu.
” upssss....!!!.” refleks Boy.
Dengan cepat dan langkah kaki Boy yang tidak seperti biasanya, Boy bergegas menuju ruang kuliah dan membuka pintu. Boy menarik tasnya dari bawah kursi, dan sepertinya ada sesuatu yang ingin ia pastikan. Bross Marlion yang melekat di tas wanita itu Mirip punya Boy yang diklaim hanya satu – satunya. Rasa heran dan penasaran Boy memuncak terhadap benda singapur itu.
” Kok ada yang sama yach...” Curhat Boy dengan benaknya.
***********
Siang itu Rasanya Boy perlu menjelaskan mengapa ia mengajak Oghie ke kantin menyeruput Moccacino, yaitu suatu kebetulan yang terjadi saat jam kuliah.
” Tadi aku melihat wanita saat jam kuliah..., sepertinya ia mahasiswa baru,Ghie...”
” Menarik nggak...?.” tanya Oghie.
” Ya jellass lah...!!!, mata gue gitu loch...” Dengan Tenarnya Boy.
” Truss...”
” Bross marlion kiriman sepupu aku di singapura, sama dengan bross yang dipakai cewe itu...”
” Truss...”
” Yang aku herankan, kata sepupu aku, Bross itu Cuma satu-satunya di singapura dan termasuk benda langka, mennn.”
” Emang, sepupu lue aja yang pernah ke singapur..., jangan2 Bross itu buatan indonesia, trus di ekspor ke singapura... trus jadi deh benda langka..., wahahahhahaha!!!. ”
”Enak aja lue...!!!”.
” Bisa jadi kan..., buktinya tu cewek pake’...” ejek Oghie
Siang itu saat obrolan Boy & Oghie berlangsung, si manusia party (Alex) datang. Dengan kepala bergoyang, Walkman dikantong & headset di telinga, seakan tak pernah terpisah dari tubuh Alex. Sosok yang cuek menjadikan banyak mahasiswi di kampus jadi penasaran terhadap Alex. Saking cueknya, ia sendiri tak pernah menyadarinya. Tapi ada satu mahasiswi yang di naksir Alex. Namanya Resni, mahasiswi jurusan Akuntansi di kampus ini. Alex nggak pernah berani ngungkapin perasaannya ke Resni, alasannya logis. Alex masih menunggu someone, teman SMAnya dulu yang masih ia nantikan hingga sekarang. namanya Wina. Meski sudah 1 tahun, Alex masih tetap menunggu jawaban dari Wina (nggak nyessell loe lex...)hehehehh.
Oghie dan Boy nggak pernah percaya dengan alasan itu. mereka tetap meyakini kalau Alex itu punya kelainan jika berhadapan dengan wanita yang ia naksir. Mereka menamakan kelainan itu dengan ”Lambertus”. ini bukan nama latin dari flora atau pun fauna dalam biologi, tapi ”Lambertus” adalah sebuah singkatan dari (lambat berterus terang).
Tidak di pungkiri, selain Alex ada pula 2 teman mereka yang mengidap penyakit yang sama. Yaitu Dadang dan Khalik. Ini dikarenakan dadang hanya dapat melihat dan memendam perasaannya terhadap Icha, wanita yang paling Dadang suka, namun tidak ada keberanian untuk itu. Dan Khalik sebatas mengagumi Tri, meskipun ia harus membohongi kata hatinya bahwa ia mencintainya.
Penyakit ini telah membakteri di kelas mereka, sehingga membuka banyak peluang bagi pria lain untuk menyerobot masuk dan mengambil hati dari sang wanita. ”Lambertus” akan menjadi hantu bagi setiap mahasiswa Teknik Komputer yang jatuh cinta. Oghie dan Boy pun tak pernah menyadari kalau akhirnya dirinya pun demikian.
Matahari kini tepat berada di atas kepala. Suasana kantin semakin ramai, yang menandakan bahwa perkuliahan terhenti sejenak karena istirahat telah mulai waktunya. Mereka bertiga kemudian mengakhiri minum kopinya, mereka kemudian keluar dari kantin itu. Mereka menuju teras gerbang kampus. Tempat yang tiap harinya mereka jadikan tempat hura – hura, tempat ngobrol, tempat melamun dan tak heran jika tempat itu menjadi tempat yang strategis melirik wanita di kampus ini. Tak lama setelah Oghie, Boy dan Alex duduk mengamati mahasiswa yang lalu –lalang di teras itu, Dadang dan khalik pun datang menyatu dengan mereka.
Rasanya Dadang-Khalik perlu merasa heran, mengapa mata Boy tak berhenti fokus di pintu itu.
” Kamu lagi lihat apa, Boy...?.” Tanya Dadang.
Kemudian ia mengisyaratkannya ke Khalik.
” Ah.. nggak ada apa – apa..” Tersentak Boy menjawab.
“ Kok dari tadi aku lihat kamu terus memperhatikan setiap Wanita yang keluar dari pintu itu.”
“ Ah.. Biasa aja.” Sangkal Boy
Oghie mengerti tingkah Boy saat itu, ia tak mau menceritakan dengan yang lain tentang kejadian itu. Oghie sendiri masih penasaran dengan wanita yang diceritakan Boy itu. Hingga beberapa wanita melewati pintu itu, Boy tidak menandakan bahwa ia melihat wanita itu lagi. Dan Alex tetap asyik dengan Walkmannya serta tetap cuek, ngga mau tau dengan apa yang di bicarakan mereka.
“ Eh.. ngomong2 dari tadi aku nggak lihat Anwar dan Akmal.” Potong Boy.
” Anwar di lantai 2 tuh..., Biassa.. hafalin puisi buat nembak cewe selanjutnya.” Jawab Khalik
” Wah.. tu anak nggak ada kapok-kapoknya. Mestinya ia ambil Sastra bukan Teknik Komputer. Nggak lucu kan kalau cara untuk nyalakan komputer mesti baca puisi dulu...” Komentar Oghie.
Suasana jalan raya depan kampus tampak begitu di padati lalu-lintas kendaraan. Orang tidak dapat menyebrangi jalan raya. Di pinggir jalan diluar pagar kampus terlihat Akmal menggenggam tangan Nita. Mahasiswi semester 1 alias MABA jurusan Komputerisasi Akuntansi yang baru seminggu ia pacari. Mereka berjalan menuju gerbang kampus sambil melepaskan sedikit demi sedikit tangan mereka masing – masing. Nita bergabung dengan gengnya dan Akmal menyatu di teras bersama mereka berlima. Untuk saat ini Akmal satu – satunya diantara mereka bertujuh yang punya pacar. berbeda dengan mereka berlima, Akmal dan Anwar tidak pernah takut soal mengungkapkan perasaan terhadap wanita, Meski Anwar rada-rada konyol sih dalam nembak cewek.
” Lue punya korek nggak..?.” Anwar yang tiba – tiba keluar dari pintu.
” Punya rokok nggak...?.” Oghie balik tanya.
” Tadi aku melihat wanita saat jam kuliah..., sepertinya ia mahasiswa baru,Ghie...”
” Menarik nggak...?.” tanya Oghie.
” Ya jellass lah...!!!, mata gue gitu loch...” Dengan Tenarnya Boy.
” Truss...”
” Bross marlion kiriman sepupu aku di singapura, sama dengan bross yang dipakai cewe itu...”
” Truss...”
” Yang aku herankan, kata sepupu aku, Bross itu Cuma satu-satunya di singapura dan termasuk benda langka, mennn.”
” Emang, sepupu lue aja yang pernah ke singapur..., jangan2 Bross itu buatan indonesia, trus di ekspor ke singapura... trus jadi deh benda langka..., wahahahhahaha!!!. ”
”Enak aja lue...!!!”.
” Bisa jadi kan..., buktinya tu cewek pake’...” ejek Oghie
Siang itu saat obrolan Boy & Oghie berlangsung, si manusia party (Alex) datang. Dengan kepala bergoyang, Walkman dikantong & headset di telinga, seakan tak pernah terpisah dari tubuh Alex. Sosok yang cuek menjadikan banyak mahasiswi di kampus jadi penasaran terhadap Alex. Saking cueknya, ia sendiri tak pernah menyadarinya. Tapi ada satu mahasiswi yang di naksir Alex. Namanya Resni, mahasiswi jurusan Akuntansi di kampus ini. Alex nggak pernah berani ngungkapin perasaannya ke Resni, alasannya logis. Alex masih menunggu someone, teman SMAnya dulu yang masih ia nantikan hingga sekarang. namanya Wina. Meski sudah 1 tahun, Alex masih tetap menunggu jawaban dari Wina (nggak nyessell loe lex...)hehehehh.
Oghie dan Boy nggak pernah percaya dengan alasan itu. mereka tetap meyakini kalau Alex itu punya kelainan jika berhadapan dengan wanita yang ia naksir. Mereka menamakan kelainan itu dengan ”Lambertus”. ini bukan nama latin dari flora atau pun fauna dalam biologi, tapi ”Lambertus” adalah sebuah singkatan dari (lambat berterus terang).
Tidak di pungkiri, selain Alex ada pula 2 teman mereka yang mengidap penyakit yang sama. Yaitu Dadang dan Khalik. Ini dikarenakan dadang hanya dapat melihat dan memendam perasaannya terhadap Icha, wanita yang paling Dadang suka, namun tidak ada keberanian untuk itu. Dan Khalik sebatas mengagumi Tri, meskipun ia harus membohongi kata hatinya bahwa ia mencintainya.
Penyakit ini telah membakteri di kelas mereka, sehingga membuka banyak peluang bagi pria lain untuk menyerobot masuk dan mengambil hati dari sang wanita. ”Lambertus” akan menjadi hantu bagi setiap mahasiswa Teknik Komputer yang jatuh cinta. Oghie dan Boy pun tak pernah menyadari kalau akhirnya dirinya pun demikian.
Matahari kini tepat berada di atas kepala. Suasana kantin semakin ramai, yang menandakan bahwa perkuliahan terhenti sejenak karena istirahat telah mulai waktunya. Mereka bertiga kemudian mengakhiri minum kopinya, mereka kemudian keluar dari kantin itu. Mereka menuju teras gerbang kampus. Tempat yang tiap harinya mereka jadikan tempat hura – hura, tempat ngobrol, tempat melamun dan tak heran jika tempat itu menjadi tempat yang strategis melirik wanita di kampus ini. Tak lama setelah Oghie, Boy dan Alex duduk mengamati mahasiswa yang lalu –lalang di teras itu, Dadang dan khalik pun datang menyatu dengan mereka.
Rasanya Dadang-Khalik perlu merasa heran, mengapa mata Boy tak berhenti fokus di pintu itu.
” Kamu lagi lihat apa, Boy...?.” Tanya Dadang.
Kemudian ia mengisyaratkannya ke Khalik.
” Ah.. nggak ada apa – apa..” Tersentak Boy menjawab.
“ Kok dari tadi aku lihat kamu terus memperhatikan setiap Wanita yang keluar dari pintu itu.”
“ Ah.. Biasa aja.” Sangkal Boy
Oghie mengerti tingkah Boy saat itu, ia tak mau menceritakan dengan yang lain tentang kejadian itu. Oghie sendiri masih penasaran dengan wanita yang diceritakan Boy itu. Hingga beberapa wanita melewati pintu itu, Boy tidak menandakan bahwa ia melihat wanita itu lagi. Dan Alex tetap asyik dengan Walkmannya serta tetap cuek, ngga mau tau dengan apa yang di bicarakan mereka.
“ Eh.. ngomong2 dari tadi aku nggak lihat Anwar dan Akmal.” Potong Boy.
” Anwar di lantai 2 tuh..., Biassa.. hafalin puisi buat nembak cewe selanjutnya.” Jawab Khalik
” Wah.. tu anak nggak ada kapok-kapoknya. Mestinya ia ambil Sastra bukan Teknik Komputer. Nggak lucu kan kalau cara untuk nyalakan komputer mesti baca puisi dulu...” Komentar Oghie.
Suasana jalan raya depan kampus tampak begitu di padati lalu-lintas kendaraan. Orang tidak dapat menyebrangi jalan raya. Di pinggir jalan diluar pagar kampus terlihat Akmal menggenggam tangan Nita. Mahasiswi semester 1 alias MABA jurusan Komputerisasi Akuntansi yang baru seminggu ia pacari. Mereka berjalan menuju gerbang kampus sambil melepaskan sedikit demi sedikit tangan mereka masing – masing. Nita bergabung dengan gengnya dan Akmal menyatu di teras bersama mereka berlima. Untuk saat ini Akmal satu – satunya diantara mereka bertujuh yang punya pacar. berbeda dengan mereka berlima, Akmal dan Anwar tidak pernah takut soal mengungkapkan perasaan terhadap wanita, Meski Anwar rada-rada konyol sih dalam nembak cewek.
” Lue punya korek nggak..?.” Anwar yang tiba – tiba keluar dari pintu.
” Punya rokok nggak...?.” Oghie balik tanya.
Anwar kemudian mengeluarkan sebungkus rokok mildnya yang sudah ia hisap dengan jumlah 4 batang. Berbeda dengan Akmal dan Alex, mereka tak pernah menyentuh barang ini dengan alasan itu sama saja membunuh dirinya sendiri. Namun Oghie, Boy, Dadang, Khalik dan Anwar tetap saja asyik menikmati hisapan demi hisapan rokok itu. mereka tetap komitmen bahwa tak ada satu pun sesuatu yang kita kerjakan tidak beresiko, semuanya punya resiko.
Mereka hampir lupa jika sehabis istirahat masih ada kuliah Assembly yang dibawakan oleh dosen Favorit mereka, yang juga menjadi ketua jurusan Teknik Komputer. Sebelumnya mereka sudah berencana jika sehabis kuliah mereka berniat nginap dirumah Khalik.
Mereka hampir lupa jika sehabis istirahat masih ada kuliah Assembly yang dibawakan oleh dosen Favorit mereka, yang juga menjadi ketua jurusan Teknik Komputer. Sebelumnya mereka sudah berencana jika sehabis kuliah mereka berniat nginap dirumah Khalik.
*******
RABU pagi di Makassar. Cahaya yang panjang menjalar dari timur melintasi kompleks yang tenang. Butiran embun bergantungan di ujung daun jambu halaman rumah Khalik. Tampaknya, ini kompleks yang serba seragam.
Malam berganti pagi, jam menunjukkan pukul 7:45 A.M, mereka bertujuh belum ada yang bangun, padahal hari ini hari rabu, yang artinya kuliah mereka akan disambut oleh Pak Adnan pada jam 8.00 pagi. Dosen ini terkenal tegas. Jika mahasiswanya terlambat 15 menit saja, maka beliau tidak segan-segan memberi status absen pada mahasiswa.
Di kamar, Sambil meraba kacamatanya, tiba-tiba Khalik terbangun dari tidurnya, dan menatap jam dinding di depannya. Ia terdiam sejenak menatap jam itu. Entah apa yang ada di pikirannya. tak lama kemudian ia meloncat meraih handuk berwarna merah yang tergantung di belakang pintu. ia berlari menuju kamar mandi sambil berteriak :
“ Paaaaakkkk Addddnaaaannn...”
Boy kemudian tersentak mendengar suara itu, ia pun mulai sadar jika hari ini kuliah Microprocessor.
” Oi.. Udah hampir jam 8..., hari ini ada quis dari pak adnan” Boy membangunkan yang lain.
Kemudian yang lain terbangun dan terkejut sambil menatap Boy. dengan seraya mereka berteriak.
“ Paaaaakkkk Addddnaaaannn...”
Namun ada satu makhluk yang tetap saja nikmatin air liurnya mengalir ke tiap sulaman benang pada bantal, siapa lagi kalau bukan Alex. Manusia yang jiwanya pada saat tidur tersangkut di pagar rumah Resni. Bila ia nggak melihat Resni dalam tidurnya ia nggak akan bangun, ia akan terus menunggu Resni sampai keluar dari rumahnya, kemudian baru dech ia terbangun alias lari dari mimpi karena grogi bertemu Resni walaupun dalam mimpi. Alasannya ngga mau jika seumpama kejadian yang diceritakan di film-film mengenai gadis cantik yang berubah jadi hantu terjadi dalam mimpinya. Ia takut keasyikan ngobrol dengan Resni dalam mimpi trus melupakan jasadnya yang lagi nunggu quis microprocessor. Makanya makhluk yang satu ini ngga usah dibangunin, nanti Resni bakalan keluar juga kok, entah itu utuh atau ?..?..?..? ;-@.
Mandi QuickExpress terjadi di ruang belakang, Oghie, Anwar, Dadang, Akmal mencari air di beberapa ember di ruang belakang, namun hanya galon yang tertancap di atas Dispenser yang mampu ia pakai sebagai pencuci muka. Boy yang ngga pernah mau tampil jorok di kampus tidak mengambil jalan ini. Ia lebih memilih mendobrak pintu kamar mandi yang di dalamnya terdapat Khalik yang sedang melakukan transaksi penyetoran nasabah.
”Hei gendut, keluar kamu. Aku masih transaksi nih..!!” kesal Khalik
Bau yang menembus hingga kedalaman 10cm dari permukaan hidung Boy, tak membuat Boy untuk tidak mandi. Boleh dibilang sih sok bersih.
shampoo yang biasanya Khalik pakai keramas kini beralih fungsi menjadi pembersih wajah Boy.
Bersambung...