penampilan tokoh militer yang selalu getol dengan sistem birokrasi yaitu segala sesuatunya harus diatur dengan disiplin, tertib, komando atasan, konstitusional dan berkonsentrasi pada satu arah yang disebut pembangunan. adalah sindiran terhadap perilaku tokoh-tokoh militer yang kini menjadi kaum establishment. dari segi inilah mahasiswa mulai mengadakan kontras pendapat, karena terlalu ketat dengan peraturan yang ada dan dirasa eksperimen budaya kurang mendapat perhatian sepenuhnya.
pengungkapan riwayat perjalanan pemerintah, mulai dari zaman kemerdekaan. ketika itu kepemimpinan pemerintah terus dipegang oleh orang-orang sipil dengan berkedok main politik-politikan, perjuangan antar ideologi, sekarang bukan dianggap sebagai zamannya lagi, dan kebijaksanaan ini harus diubah, misalnya dipersempit ruang lingkupnya untuk mengadakan fusi partai dan lain sebagainya
sejarah telah membuktikan bahwa, kemerdekaan ini diperoleh dari kekuatan militer yaitu dengan perang fisik. setelah kemerdekaan tercapai. orang sipillah yang memerintah dan yang terjadi adalah timbulnya gontok-gontokan antar ideologi, sehingga timbul pemberontakan yang gara-garanya masih sama yaitu main politik-politikan dan saling memperjuangkan ideologinya masing-masing. dalam keadaan demikian maka tampillah kekuatan militer untuk menindasnya, dan militer yang berhasil menyelamatkan negara.
kalau dalam suatu pemilihan umum dimenangkan oleh suatu partai besar misalnya, saya tidak yakin apakah kemenangan itu mampu dibawa ke kesuksesan pemerintah. itu tidak mustahil, ada satu partai yang menang, partai yang kalah bersiap untuk menebus kekalahan. timbul perjuangan, program pemerintah gagal kembali, pergeseran kedudukan muncul kembali.
disinilah letak segi rasionalnya pemikiran pemerintah militer, disamping itu pemerintahan militer lebih bisa menjamin segi keamanan negara, tetapi birokrasi yang terlalu ketat, tidak bisa diterapkan secara langsung kepada semua pihak kalau tidak memperhatikan segi-segi kemanusiaannya. dan kegagalan ini digambarkan timbulnya revolusi tersebut. disitulah letak kedewasaan berpikir panggung sandiwara politik yaitu dalam menunjukkan obyektivitasnya
pengungkapan riwayat perjalanan pemerintah, mulai dari zaman kemerdekaan. ketika itu kepemimpinan pemerintah terus dipegang oleh orang-orang sipil dengan berkedok main politik-politikan, perjuangan antar ideologi, sekarang bukan dianggap sebagai zamannya lagi, dan kebijaksanaan ini harus diubah, misalnya dipersempit ruang lingkupnya untuk mengadakan fusi partai dan lain sebagainya
sejarah telah membuktikan bahwa, kemerdekaan ini diperoleh dari kekuatan militer yaitu dengan perang fisik. setelah kemerdekaan tercapai. orang sipillah yang memerintah dan yang terjadi adalah timbulnya gontok-gontokan antar ideologi, sehingga timbul pemberontakan yang gara-garanya masih sama yaitu main politik-politikan dan saling memperjuangkan ideologinya masing-masing. dalam keadaan demikian maka tampillah kekuatan militer untuk menindasnya, dan militer yang berhasil menyelamatkan negara.
kalau dalam suatu pemilihan umum dimenangkan oleh suatu partai besar misalnya, saya tidak yakin apakah kemenangan itu mampu dibawa ke kesuksesan pemerintah. itu tidak mustahil, ada satu partai yang menang, partai yang kalah bersiap untuk menebus kekalahan. timbul perjuangan, program pemerintah gagal kembali, pergeseran kedudukan muncul kembali.
disinilah letak segi rasionalnya pemikiran pemerintah militer, disamping itu pemerintahan militer lebih bisa menjamin segi keamanan negara, tetapi birokrasi yang terlalu ketat, tidak bisa diterapkan secara langsung kepada semua pihak kalau tidak memperhatikan segi-segi kemanusiaannya. dan kegagalan ini digambarkan timbulnya revolusi tersebut. disitulah letak kedewasaan berpikir panggung sandiwara politik yaitu dalam menunjukkan obyektivitasnya
0 komentar:
Posting Komentar