THE MICROSCOPIC CHARACTER
Oghie-X
Oghie-X
Guys’. Loe pasti sering kan mendapatkan sebuah pertanyaan seperti ini: “Untuk apa kamu dilahirkan.” gue tau loe udah bertahun-tahun hidup didunia ini, dan pertanyaan seperti ini mungkin udah nggk asing lagi dikuping loe. Baik yang dimunculkan dari pikirin loe, ataupun ditanyakan langsung oleh seseorang. Mungkin sebagian dari spesies loe menganggap pertanyaan tersebut udah basi dan terlalu kekanak-kanakan, bahkan bisa jadi loe menganggap pertanyaan ini gariiing, menggelikanlah, apatislah, sok filisoflah atau apapun itu. Ngaku aja deh loe...!!!. tapi pernah nggk loe berpikir untuk menjawab pertanyaan tersebut?. Pertanyaan yg loe anggap basi, garing, dsb. Atau mungkin loe merasa udah menjawabnya?. Apa coba jawaban loe? (kerjakan dipapan tulis sesuai daftar hadir...) dan paling disitu-situ doang, seperti: ”Aku dilahirkan untk berbagi”, ”untk membahagiakan orang tua”, ”untk sukses, bahagia, punya anak cuakep seperti BodyAnduk dan cantik seperti Omas”, atau mungkin jawaban loe ”Untuk beribadah”, ”untk berbuat baik”, ”untk mati”, ”untk jd Batmanlah, supermanlah, spidermanlah, takdirlah”. Nyadar nggk, kalo jawaban loe itu yang basi. Dan terlalu copy-paste. Atau loe akan mencoba menyusun kata-kata tingkat tinggi dengan EYD yang baik dan dibumbuhi oleh kalimat sastra supaya kedengaran enak?. Tapi nyadar nggk kalau jawaban loe itulah yang sok filosofian, yang bertele-tele dan berputer2 dari terminal Daya ke bandara Sultan Hasanuddin (mana naik becak laggee!!!). parahnya lagi, mungkin sebagian dari loe-loe akan mengadopsi kata-kata Mario Teguh untuk menjawab pertanyaan tersebut. ”Loe tanya bapak itu, apakah dia terlahir dari orang yang miskin nggak?” (ngomongnnya gampang klo udah kaya!!!). Mendingan tidak menjawab soal ujian sama sekali daripada harus nyontek.
Mungkin agak lebih mending jika ada secuil dari loe yang memilih untuk tidak dilahirkan daripada harus menjadi beban kehidupan seperti, L** (jgn marah, cz gue nggk sebut loe!!!). Atau mungkin ada juga yang bener2 tau untuk apa dia dilahirkan, tapi nggak bisa jadi jaminan klo spesies loe itu tau peran apa yang harus dia mainkan di dunia ini. Dan ngaku aja loe, klo kebanyakan dari loe menyerahkan sepenuhnya peran kamu pada sebuah waktu? Iya kan...?, dengan kata lain loe akan lihat profesi loe nantinya. Tetapi apakah peran hanya sebatas profesi doang?, jika peran adalah sebuah profesi berarti peran para Rasul dalam menyampaikan wahyu adalah sebuah profesi juga. Sekarang gue tanya. Gajinya dimana?, yang gaji siapa? loe bayar berapa ke Dia demi keselamatan loe? (lagian belum tentu loe selamat). Atau Thomas A. Edison pernah loe kasi apa dalam menyinari kamar loe?, Alexander G. Bell pernah loe bayar berapa dalam membantu loe ngobrol dgn cewek loe yang berbeda tempat?. Itu semua yang loe maksudkan peran=profesi?. Sorry La yauuu... pada saat orang yang berprofesi bagus dengan gaji tinggi itu mati/wafat, kok profesinya ikut meninggal juga yahh?. Trus kenapa orang yang berperan dalam menyampaikan wahyu, menemukan lampu, menemukan telepon, menolong orang banyak, dan lain2, perannya sampai sekarang masih ada, bahkan hingga dunia kiamat pun kemungkinan perannya tidak akan mati? (padahal ada yang nggk digaji lho!!! He he he). Mungkin loe bisa sanggah dengan mengatakan bahwa itu merupakan takdirnya?. Tp tunggu dulu, kenapa kita harus terlahir kalau hanya untk ditentukan sana-sini?. Secara tidak langsung loe mengatakan kita ini ibarat mainan anak kecil yang dimainkan sesuka hati oleh Tuhan. Tp kenapa kenapa dunia harus kiamat kalau setelah itu nggk ada lagi kehidupan?. Trus apa yang akan dimainkan Tuhan lagi?. Trus, adilkah Tuhan jika perbuatanmu hanya bertahun-tahun tp akan dicampakkan ke neraka selama-lamanya?. Atau masih ada alternatif lain. mungkin mereka pernah hidup lebih dari satu kali, dan belajar dari kehidupan sebelumnya. Yang dikehidupan pertama menganggap bahwa profesi/jabatan/pekerjaan yang bagus akan mendatangkan kesuksesan, trus berujung pada kebahagian, toh saat mereka mati profesinya ikut mati, dan saat mereka terlahir kembali profesinya tidak ikut kembali (nggak bawa apa2 coy, telanjang doang!!!). Namun dikehidupan selanjutnya mereka mengutamakan mengambil sebuah peran yang bermanfaat di dunia sehingga pada saat kembali menemukan kematian, perannya tidak ikut mati, dan pada saat itulah kebahagiaan akan keberadaanya di dunia masih tetap ada (meski merasa asing waktu terlahir kembali). Maybe...
* perilaku sebuah benda mikroskopik selalu didasarkan pada prinsip ketakpastian (Heissenberg uncertainty principle) dan pada tafsiran kemungkinan (probability interpretation) yang sama sekali tidak berlaku untuk sebuah benda makroskopik (Prof. P. Silaban, Ph.D)
Mungkin agak lebih mending jika ada secuil dari loe yang memilih untuk tidak dilahirkan daripada harus menjadi beban kehidupan seperti, L** (jgn marah, cz gue nggk sebut loe!!!). Atau mungkin ada juga yang bener2 tau untuk apa dia dilahirkan, tapi nggak bisa jadi jaminan klo spesies loe itu tau peran apa yang harus dia mainkan di dunia ini. Dan ngaku aja loe, klo kebanyakan dari loe menyerahkan sepenuhnya peran kamu pada sebuah waktu? Iya kan...?, dengan kata lain loe akan lihat profesi loe nantinya. Tetapi apakah peran hanya sebatas profesi doang?, jika peran adalah sebuah profesi berarti peran para Rasul dalam menyampaikan wahyu adalah sebuah profesi juga. Sekarang gue tanya. Gajinya dimana?, yang gaji siapa? loe bayar berapa ke Dia demi keselamatan loe? (lagian belum tentu loe selamat). Atau Thomas A. Edison pernah loe kasi apa dalam menyinari kamar loe?, Alexander G. Bell pernah loe bayar berapa dalam membantu loe ngobrol dgn cewek loe yang berbeda tempat?. Itu semua yang loe maksudkan peran=profesi?. Sorry La yauuu... pada saat orang yang berprofesi bagus dengan gaji tinggi itu mati/wafat, kok profesinya ikut meninggal juga yahh?. Trus kenapa orang yang berperan dalam menyampaikan wahyu, menemukan lampu, menemukan telepon, menolong orang banyak, dan lain2, perannya sampai sekarang masih ada, bahkan hingga dunia kiamat pun kemungkinan perannya tidak akan mati? (padahal ada yang nggk digaji lho!!! He he he). Mungkin loe bisa sanggah dengan mengatakan bahwa itu merupakan takdirnya?. Tp tunggu dulu, kenapa kita harus terlahir kalau hanya untk ditentukan sana-sini?. Secara tidak langsung loe mengatakan kita ini ibarat mainan anak kecil yang dimainkan sesuka hati oleh Tuhan. Tp kenapa kenapa dunia harus kiamat kalau setelah itu nggk ada lagi kehidupan?. Trus apa yang akan dimainkan Tuhan lagi?. Trus, adilkah Tuhan jika perbuatanmu hanya bertahun-tahun tp akan dicampakkan ke neraka selama-lamanya?. Atau masih ada alternatif lain. mungkin mereka pernah hidup lebih dari satu kali, dan belajar dari kehidupan sebelumnya. Yang dikehidupan pertama menganggap bahwa profesi/jabatan/pekerjaan yang bagus akan mendatangkan kesuksesan, trus berujung pada kebahagian, toh saat mereka mati profesinya ikut mati, dan saat mereka terlahir kembali profesinya tidak ikut kembali (nggak bawa apa2 coy, telanjang doang!!!). Namun dikehidupan selanjutnya mereka mengutamakan mengambil sebuah peran yang bermanfaat di dunia sehingga pada saat kembali menemukan kematian, perannya tidak ikut mati, dan pada saat itulah kebahagiaan akan keberadaanya di dunia masih tetap ada (meski merasa asing waktu terlahir kembali). Maybe...
- ”Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” [Al-Baqarah, 28]
- ”Sesungguhnya setiap yang lahir, kematian adalah pasti, demikian pula setiap yang mati, kelahiran adalah pasti, dan ini tak terelakkan; karena itu tidak ada alasan engkau menyesal” [Bhaghavad Gita, 11:27]
- "Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus." [1 Korintus, 15:22]
* perilaku sebuah benda mikroskopik selalu didasarkan pada prinsip ketakpastian (Heissenberg uncertainty principle) dan pada tafsiran kemungkinan (probability interpretation) yang sama sekali tidak berlaku untuk sebuah benda makroskopik (Prof. P. Silaban, Ph.D)
1 komentar:
masuk di akal juga jiee iya
Posting Komentar